ESENSI PAKAIAN DAN STRATEGI SETAN
Bersama : Muhammad Suyuti. M ( Pak Uti )
Untuk memahami esensi pakaian, maka harus sesuai panduan dari Allah
Subehanahu Wata'ala.
Berdasarkan Tadabbur **QS. Al-A'raf [7]: 26–27**, berikut adalah artikel Kami
lengkap yang mengulas secara mendalam bahaya dan strategi setan dalam
menjerumuskan manusia melalui terbukanya aurat.
# Strategi Tipu Daya Setan: Mengapa Aurat Menjadi Sasaran Utama? (Tadabbur QS.
Al-A’raf: 26–27)
Pakaian dan penutup aurat bukan sekadar kebutuhan fisik atau hasil evolusi
budaya manusia, melainkan karunia ilahi yang berkaitan erat dengan fitrah
keimanan dan ketakwaan. Sejak awal mula penciptaan manusia, setan telah
menjadikan "penyingkapan aurat" sebagai senjata utama untuk
meruntuhkan martabat manusia dan menyeret mereka ke dalam kehinaan.
Dalam Al-Qur'an Surah Al-A'raf ayat 26 dan 27, Allah SWT memperingatkan manusia
secara tegas mengenai peranan pakaian serta muslihat setan yang telah teruji
sejak zaman Nabi Adam AS dan Hawa.
---
## 1. Teks Ayat, Terjemahan, dan Dalil Utama
### QS. Al-A'raf [7]: 26
> **يٰبَنِيْٓ
اٰدَمَ قَدْ اَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُّوَارِيْ سَوْاٰتِكُمْ وَرِيْشًا ۗ
وَلِبَاسُ التَّقْوٰى ذٰلِكَ خَيْرٌ ۗ ذٰلِكَ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ لَعَلَّهُمْ
يَذَّكَّرُوْنَ**
> *“Wahai anak cucu Adam, sungguh Kami telah menurunkan kepadamu pakaian
untuk menutup auratmu dan bulu (pakaian indah untuk perhiasan). Dan pakaian
takwa itulah yang terbaik. Yang demikian itu merupakan bagian dari tanda-tanda
(kebesaran) Allah agar mereka mengambil pelajaran.”*
### QS. Al-A'raf [7]: 27
> **يٰبَنِيْٓ
اٰدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطٰنُ كَمَٓا اَخْرَجَ اَبَوَيْكُمْ مِّنَ
الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْاٰتِهِمَا ۗ
اِنَّهٗ يَرٰىكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهٗ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ اِنَّا
جَعَلْنَا الشَّيٰطِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ لِلَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ**
> *“Wahai anak cucu Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan
sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua orang tuamu (Adam dan Hawa) dari surga,
dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan kepada keduanya aurat
mereka. Sesungguhnya ia dan pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang
kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan
itu pemimipin bagi orang-orang yang tidak beriman.”*
---
## 2. Tadabbur & Analisis Mufassir
### A. Fitrah Pakaian dan Penutup Aurat (Ayat 26)
Pada ayat 26, Allah menyingkap tiga tingkatan pakaian bagi manusia:
1. **Libas Satar (*Libas yang Menutup Aurat*):** Kebutuhan primer
(*dharuriyyat*) untuk menutup bagian tubuh yang malu jika terlihat
(*sau'atikum*).
2. **Reesh (*Risy*):** Pakaian sekunder/tersier (*hajiyyat* dan *kamaliyyat*)
yang berfungsi sebagai perhiasan dan keindahan.
3. **Libas al-Taqwa (*Pakaian Takwa*):** Pakaian bathiniah berupa keimanan,
kesopanan, dan rasa malu. Ibnu Katsir mengutip Ibnu Abbas $RA$ yang menyatakan
bahwa pakaian takwa adalah **amal saleh dan rasa malu (*al-Haya'*)**.
Jika pakaian fisik melindungi tubuh dari cuaca dan pandangan haram, maka
pakaian takwa melindungi jiwa dari keburukan dan dosa.
### B. Membongkar Misi Utama Setan (Ayat 27)
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa memperlihatkan aurat adalah
**langkah awal pencabutan rasa malu dan martabat**.
1. **Pola Tipu Daya yang Berulang:** Setan tidak berubah dalam taktiknya.
Sebagaimana ia melucuti pakaian Nabi Adam dan Hawa di surga agar terlihat
auratnya (QS. Al-A'raf: 22), ia menggunakan taktik yang sama kepada anak cucu
Adam di dunia.
2. **Gharizah Rasa Malu sebagai Target:** Aurat dalam bahasa Arab dinamakan
*sau’ah* (dari kata *su’* yang berarti buruk/menyedihkan), karena secara fitrah
membukanya membuat jiwa yang lurus merasa malu dan sedih. Setan berusaha
merusak benteng rasa malu ini secara perlahan (*istidraj*).
3. **Senjata Tak Terlihat:** Allah mengingatkan *“Innahu yarakum huwa wa
qabiluhu min haitsu la tarawnahum”* (Sesungguhnya ia dan pengikutnya melihat
kamu dari tempat yang kamu tidak lihat). Kewaspadaan ekstra sangat diperlukan
karena musuh menyerang dari dimensi yang tidak kasatmata.
---
## 3. Bahaya Membuka Aurat dalam Dalil-Dalil Pendukung
Tindakan membuka aurat dan mengumbar perhiasan (*tabarruj*) membawa konsekuensi
serius baik di dunia maupun di akhirat:
1. **Penyebab Tidak Masuk Surga (Hadis Shahih):**
Rasulullah $SAW$ bersabda:
> *“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat:...
wanita-wanita yang berpakaian tetapi bertelanjang (*kasiyat 'ariyat*),
berlenggak-lenggok... Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium
baunya.”* **(HR. Muslim no. 2128)**
2. **Merupakan Bentuk Jahiliyah dan Tabarruj:**
Allah $SWT$ berfirman:
> *“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan
bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah dahulu...”* **(QS. Al-Ahzab [33]:
33)**
3. **Hilangnya Hilmiya/Rasa Malu:**
Rasulullah $SAW$ menegaskan pentingnya rasa malu sebagai bagian dari keimanan:
> *“Rasa malu dan iman itu adalah dua hal yang terikat bersama; jika salah
satunya diangkat, maka yang lain pun akan terangkat.”* **(HR. Al-Hakim dalam
Al-Mustadrak, dishahihkan oleh Al-Albani)**
---
## 4. Pelajaran Utama & Penutup
1. **Menutup Aurat Adalah Benteng Ketaatan:** Membuka aurat bukan sekadar tren
pakaian atau ekspresi kebebasan pribadi, melainkan keberhasilan setan dalam
melucuti martabat manusia.
2. **Pentingnya Memelihara Rasa Malu:** Rasa malu adalah penjaga pakaian takwa.
Ketika rasa malu hilang, standar moral seseorang akan runtuh.
3. **Menjaga Diri dari Fitnah:** Mengikuti petunjuk syariat dalam berbusana
(menutup aurat dengan tidak ketat, tidak menerawang, dan tidak bertabarruj)
adalah bentuk perlindungan dari fitnah dan tipu daya iblis.
4.** Pesan Saya Muhammad Suyuti. M, sebagai penulis ahai saydaraku ayo
Istiqamah taah perintah Allah termasuk Tutup Aurat Sebelum ditutupi kain kafan
dan jaga shalat sebelum dishatati. Siapa yang menjaga shalat pasti shalat
menjaganya Dunia Akhirat, aamiin...
---
## Daftar Pustaka
1. **Al-Qur'an al-Karim.**
2. **Al-Qurthubi, Abu Abdillah.** (2006). *Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an (Tafsir Al-Qurthubi)*. Beirut: Muassasah al-Risalah.
3. **Al-Thabari, Abu Ja'far Muhammad ibn Jarir.** (2001). *Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an (Tafsir at-Thabari)*. Cairo: Dar Hijr.
4. **Ibnu Katsir, Ismail ibn Umar.** (1999). *Tafsir al-Qur'an al-'Azim*. Riyadh: Dar Thaibah.
5. **Al-Nawawi, Yahya ibn Syaraf.** (1998). *Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj*. Beirut: Dar Ihya at-Turats al-'Arabi.
6. **Al-Naisaburi, Muslim ibn al-Hajjaj.** (2006). *Al-Jami' al-Shahih (Shahih Muslim)*. Riyadh: Darussalam.





